Rabu, 22 Oktober 2008

Satu Episode dalam Perjalanan Panjang


Seekor kucing tua berbulu belang hitam terpaku diam menikmati udara hangat dari perapian kayu yang sedang menyala. Kucing itu diam seperti patung dengan kepala menekur karena menahan kantuk.

Ditengah udara dingin pagi desaku dan hujan yang beberapa hari ini tidak berhenti turun, membawa anganku menerobos celah mimpi yang begitu panjang..

Angin yang berhembus , diam-diam menyerbu masuk menyatu dengan darah yang mengalir dalam tubuhku, membuat tangan dan kakiku terlihat semakin pucat. Kubawa langkah kaki menikmati suasana pagi dengan memanjakan mata kearah hamparan padi yang mulai menguning..Indah sekali….berpadu dengan latar yang elok dan memukau hati. Sebuah potret alam yang sungguh mempesona dan menyihir jiwa.

Perlahan-lahan sinar matahari menyebar kekuasaannya, mengusir dingin yang diam-diam mengalah dan pergi… Perlahan kuputar pandangan kearah kucing belang hitam yang diam menghangatkan tubuhnya.. Kucing itu masih di sana, sendiri dan seperti tak terusik dengan ketenangan pagi…

Suara-suara binatang kecil tak kalah merdunya, menebar pesona membentuk sebuah orkestra alam yang tak tertandingi..

Seketika ku terkesima dalam diam, hanyut dengan pemikiranku sendiri…

KekuasaanMu benar-benar mampu menundukkan keangkuhan dan kesombongan jiwa, Ya Allah….Kesempurnaan ini memang hanya MilikMu ya Rabb…dan Kau tak pernah berhenti menabur nikmatMu ditengah-tengah kefanaan dunia yang terkadang membuat hambaMu terlena….

Sinar matahari perlahan meredup, ditutupi awan hitam yang diam-diam ingin menyusup…Tetes-tetes hujan rahmatMu bergerak lembut membasahi pagi yang ingin beranjak pergi….

Terlintas sebuah doa yang selalu kupendam dihati dan seketika itu juga kuucap sepenuh hati..kuberharap harapan yang ada benar-benar terjadi dan menumbuhkan kedewasaan dalam cinta dan diri……

( Ree_Harapan hati/syawal 1429 H )

Tidak ada komentar: